[REVIEW] 13 Reasons Why dan 4 Pesan Moral dari Kisah Hannah Baker

Source: themighty.com
Source: themighty.com

Mengantongi skor IMDb hingga 9/10 tentu saja adalah alasan yang cukup kuat bagi Pio untuk menonton drama serial besutan Netflix ini. Drama yang diangkat dari novel Jay Asher berjudul sama ini baru-baru ini sukses menggemparkan para pecinta  west series. 13 episode 13 Reasons Why dirilis di hari yang sama, 31 Maret 2017 lalu dan digadang-gadang sebagai salah satu serial original terbaik yang dibesut Netflix.

13 Reasons Why berkisah tentang Hannah Baker (Katherine Langford), seorang siswa SMA yang memutuskan bunuh diri dengan meninggalkan 7 buah kaset yang berisi rekaman suaranya. Dalam kaset itulah Hannah menceritakan satu demi satu dari 13 alasan yang ia miliki hingga memutuskan mengakhiri hidupnya. Dari tangan Tony (teman Hannah yang pertama kali menerima kotak berisi kaset-kaset itu), kaset itu lalu berputar dari satu siswa ke siswa lain yang ternyata, semuanya memiliki kaitan dengan kematian Hannah Baker.

Sumber: tuenlinea.com
Sumber: tuenlinea.com

Drama ini diambil dari sudut pandang Clay Jensen (Dylan Minnette), meski dalam narasi menurut Pio, Hannah lebih mendominasi cerita. Dialog dan problem khas remaja (barat tentunya) lumrah ditemui di sini. Suasana kelam dengan musik backsound yang mengiringi serta misteri kematian Hannah yang bikin penasaran, membuat Pio hanya butuh waktu singkat menamatkannya. Lantas, apa sih yang bisa kita dapatkan dari serial ini? Yuk simak.

  1. Bullying Bisa Terjadi di Mana Saja, dalam Bentuk Apa Saja
Sumber: assets1.pop-buzz.com
Sumber: assets1.pop-buzz.com

Ketika pertama kali menonton seri ini, Pio sama sekali nggak merasa Hannah adalah korban bullying. Dia kelihatan lumayan akrab dengan teman-teman sekolahnya dan beberapa kali ikut party yang diadakan oleh siswa SMA Liberty (sekolah Hannah) yang lain. Gambaran anak cupu yang jadi bulan-bulanan yang biasa kita lihat di cerita bullying sama sekali nggak nampak pada diri Hannah. Ya, tentu saja setelah kita mendengar satu demi satu rekaman kasetnya, kita jadi tahu Hannah ternyata mengalami banyak sekali konflik batin yang tidak ada bedanya dengan bullying.

  1. Setiap Perkataan dan Perbuatan ada Konsekuensinya
Baca juga   7 Drama Korea yang Diberi Judul dengan Nama Karakter Utamanya
Sumber: cdn-images-1.medium.com
Sumber: cdn-images-1.medium.com

Menonton 13 Reasons Why, bikin Pio teringat masa-masa sekolah. Kadang ucapan-ucapan kecil yang kita ucapkan pada teman-teman (atau kita dengar), kelihatannya seperti sesuatu yang sepele. Ada perlakuan yang kita terima yang dianggap orang biasa-biasa tapi ternyata jadi luka sampai dewasa. Banyak sekali hal-hal yang kelihatannya kecil tapi ternyata bisa membawa dampak besar. Ibarat Butterfly Effect, sekecil apapun keputusan yang kita ambil sekarang, akan ada akibatnya kelak.

Dan ini terjadi pada Hannah. Dia hanya seorang remaja biasa yang tinggal bersama kedua orang tua yang penuh kasih sayang. Dengan keluarga yang bahagia, kenapa Hannah bisa semudah itu memutuskan mengakhiri hidupnya? Kalau kamu menonton serial ini dari awal sampai akhir, kamu bakal tahu ada banyak alasan kecil yang jadi duri dalam hidup Hannah Baker. Duri yang bertumpuk, membuat dirinya tidak sanggup menahan sakitnya lagi dan memutuskan bunuh diri.

  1. Jangan Takut Mengatakan Apa yang Ada Dalam Pikiranmu
Sumber: static1.squarespace.com
Sumber: static1.squarespace.com

Apa yang tidak dilakukan oleh Hannah Baker sebelum dia memutuskan memotong nadinya sendiri adalah hal yang sepele: bicara. Hannah adalah tipikal remaja yang memikirkan banyak hal seorang diri. Hal-hal tak menyenangkan yang mengganggu pikirannya tidak pernah ia ungkapkan pada siapapun. Termasuk pada Clay, teman dekat yang ternyata dicintainya. Akhirnya? Teman-temannya baru tahu apa yang sudah mereka perbuat pada Hannah lewat kaset rekaman yang ia tinggalkan. Mereka sudah tahu saat semuanya sudah terlambat.

  1. Lihat Segalanya Lebih Dekat
Sumber: indiewire.com
Sumber: indiewire.com

Kedengaran seperti lagu Sherina, ya? Hehehe. Tapi memang itulah yang gagal dilakukan Clay semasa Hannah masih hidup. Ada banyak petunjuk yang ditinggalkan Hannah sebelum ia memutuskan bunuh diri. Seandainya saja waktu itu Clay dan teman-temannya bersikap lebih peka, mereka bisa mengajak Hannah bicara, menyelesaikan semuanya dan tentu saja menghalangi anak itu bunuh diri.

Baca juga   [REVIEW] Hyung, yang Nyebelin Sekaligus Ngangenin
Sumber: cdn.inquisitr.com
Sumber: cdn.inquisitr.com

Hannah Baker waktu itu ada dalam kondisi kejiwaan yang benar-benar terpuruk. Berulang kali ia menulis dan mengatakan berbagai isyarat. “Aku ingin hidup berhenti.” Tapi, semua orang di sekitarnya gagal membaca semua isyarat itu, termasuk orang tuanya sendiri dan Pak Porter, guru BP yang sempat dicurhatinya di hari kematiannya.

Sumber: nocookie.net
Sumber: nocookie.net

Pio tentu saja tidak mendukung keputusan bunuh diri –apapun alasannya, bunuh diri sama sekali bukan penyelesaian. Bunuh diri juga bukan suatu hal yang bisa dilakukan secara impulsif begitu saja sebagaimana ribetnya alasan yang diungkapkan Hannah Baker dalam kaset-kasetnya. Tapi 13 Reasons Why ini mengajarkan satu pesan penting yang harus kita camkan dalam-dalam. Kita nggak pernah tahu luka yang disimpan seseorang, karena itu berbuat baiklah pada siapapun. Kita juga nggak akan pernah tahu, mungkin saja suatu saat apa yang kita lakukan dan katakana akan jadi salah satu alasan seseorang memotong nadinya sendiri.

Sumber: wapopartners.com
Sumber: wapopartners.com

Over all, 13 Reasons Why adalah kisah yang asyik untuk diikuti. Episode demi episode seperti puzzle yang ingin segera kita susun untuk tahu wujud utuhnya. Yang sudah tamat SMA, pasti bakal kangen (atau mungkin kesal) dengan masa-masa penuh pemberontakan itu. Jadi, apa Pio perlu beberkan alasan lain supaya kamu nonton serial ini?

What Do You Think?